Sabtu, 01 November 2014

Aku Ingin

Hari ini cukup mendung, tapi hujan telah membasahi pipi ini.

Entahlah, cukup satu kata untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Ini hari ketiga bapak pulang kampung, dan ternyata bapak bos juga pulkam. Sempurna sudah penderitaan ini, dalam beberapa hari ke depan aku harus bertahan dengan ibu bos. Dari pagi hingga malam dengan jam kerja yang terbilang ekstrem, 14 jam.

Kadang aku lelah dan rindu akan hari libur, kadang aku pun berontak dan tak peduli dengan kewajibanku. Aku bangun agak siang, sekitar pukul 8 atau 9, bukan karena aku malas, namun karena aku bosan dengan rutinitas ini dan menurutku tidur adalah salah satu hal yang dapat membuatku lupa dengan rutinitas2 itu. Seharusnya pukul 7 aku sudah harus stand by, karena toko buka mulai pukul 7. Ya, aku memang tidur di ruko alias rumah toko.

Aku disini membantu bapakku, peran utamaku adalah kuliah yang kebetulan dibiayai oleh ibu bos. Tapi sebagai anak muda, jenuh bosan suntuk stress sering menghampiriku. Terlebih pascawisuda aku jadi tak punya alibi untuk keluar dari belenggu toko. Aku kerap rindu dengan dunia luar, melihat hal2 baru yang membuatku takjub. Pengalaman baru dan waktu luang untuk diriku sendiri. Namun toko ini terlalu horor, jangan pernah mengharapkan hari libur. Hari raya umat Islam saja tidak libur. Super berkali-kali bukan?

Aku senang kemarin Yuli main seharian ke toko. Sahabatku sejak di bangku kuliah ini memang sering mampir ke tempatku alih2 suntuk di kost-an. Dia baik sekali mau membereskan kamarku yang seperti habis diterjang badai. Kami baru saja menggambar bebas di dinding dengan kapur ajaib, disebut ajaib karena mampu membuat semut2 pingsan tak berdaya. Yuli juga yang dengan senang hati menggantikan sprei gara2 semut2 itu bersarang di kasurku.

Kini kamarku menjadi lebih bersih. Aku menyuruh dia untuk menginap malam ini berhubung bapak sedang di kampung halaman. Kami biasa menghabiskan malam dengan menonton film atau bercerita sampai kami ketiduran. Tapi kali ini dia menolak karena besok harus mengurus BPKB motor. Hmm sepertinya malam ini aku akan kembali merasa kesepian.

Aku tak tahan menahan penghuni2 perut yang memberontak. Sedari pagi belum menyuplai apapun ke tubuh ini. Jadilah kita makan gado2 yang aku beli di dekat rumah. Aku tidak tega memberi Yuli makanan yang aku sendiri tidak tega memakannya untuk para penghuni perut. Bagaimana tidak, hari itu ibu bos masak telur yang di ceplok, kemudian dikecapin dicampur sedikit bihun dan tempe yang dipotong kecil2. Sekilas nampak lezat, tapi entah mengapa aku seperti sudah hafal dengan taktik pola masaknya.

Tanpa ragu langsung saja aku menghampiri kulkas, membukanya dan meneliti dengan seksama. Hmm benar saja hipotesisku, ada tiga hal yang menurutku hilang dari kulkas. Pertama, telur yang dibeliin bapak. Padahal malam harinya aku makan dengan lauk telur yang di ceplok. Telur2 itu adalah persediaanku untuk jaga2 kalau tengah malam aku kelaparan dan tidak ada lauk.

Bagian sedihnya bukan disitu. Aku ikhlas telur2 itu dimasak sama ibu bos. Tapi yang membuatku tidak ikhlas adalah kenapa masaknya harus dicampur dengan bihun sisa 2 hari yang lalu waktu masak soto dan oseng tempe sisa 3 hari yang lalu??? Kenapa?? Kenapa??

Tidakkah ibu bisa memasak makanan yang lebih bermartabat, lebih steril, lebih sehat?? Aku tak masalah walaupun harus makan dengan tempe goreng atau ikan asin saja. Aku tidak perlu makanan mewah, aku cuma ingin makanan yang layak, yang bersih. Bukan makanan sisa yang dicampurin jadi satu lalu dikecapin atau disambelin agar aku tidak menyadarinya.

Aku tidak habis pikir seorang bos tapi seperti itu. Perasaan walaupun ibu saya bukan bos, tapi tidak segitunya, malah selalu memberikan yang terbaik. Aku hanya tertunduk lesu dan kemudian menutup pintu kulkas. Aku jadi teringat waktu aku minum air putih dan gelas bekas aku minum aku taruh di kulkas, selesai mencuci pakaian aku kaget hendak minum namun gelasku hilang. Dan baru ku sadari gelas itu dipakai Om Furqon, saudara ibu bos yang waktu itu berkunjung ke toko. "Gilak, gelas bekas gw lo suguhin buat tamu??", hati kecilku menggerutu.

Jadilah malam harinya aku makan dengan mie instan, makanan favorit karena terpaksa, daripada makan makanan yang sangat jelas asal muasalnya namun hati ini seperti tercabik-cabik.

Keesokan harinya lebih parah lagi. Aku mendapati hunian baru di kulkas. Ikan disambelin sisa 2 hari yang lalu dan telur dikecapin sisa kemarin. Aku melihat sekantong plastik penuh alpukat hampir rusak, dan ada tahu mentah. Pasti alpukatnya minta dari Om Wandi, tukang buah CS nya bapak. Di meja makan juga ada semangkuk penuh tahu goreng dan di penggorengan ada secuil nasi goreng.

Awalnya dia masih biasa2 saja, dia coba menawariku tahu goreng, namun aku hanya membalas dengan anggukan. "Masak nasi gak yan?, bapak pulang kampung, mau masak nasi jadi males", celetuknya. "Celaka, hari ini bakal menjadi hari yang suram, tak ada nasi.", gumamku.

Dia belum menyerah, "Makan yan, ceritanya tadi bikin nasi goreng mau makan tapi kok ada orang terus". "Enggak, udah ibu aja yang makan." Jawabku dingin. "Oh iya ya lagi sakit itunya", dia berpikir karena sariawanku mungkin belum sembuh. "Udah sembuh, cuman lagi gak pengen makan aja", sahutku dalam hati.

Dia coba terus menawariku, "Beli gado2 ya?, Ibu malah lagi pengen.makan gado2". "Enggak", selorohku. "Ibu beliin nasi padang ya?". "Gak usah". "Kan ada alpukat yan, sana bikin nih kasih susu enak". "Engga ah". Sampai akhirnya dia menyerah juga dan tidak berkata apa2 lagi.

Aku seperti hilang selera, hatiku berdemo. Tidak ingin menyentuh apapun yang dia masak. Apapun yang dia tawarkan. Seperti semalam, tetangga memberi risoles yang baru dia bikin. "Bu, cobain", kata tetangga. "Wah, apa ini? Baru ya?, makasih ya", jawab ibu bos sumringah. "Nih yan", dia pun menawariku, entah benar2 menawari atau hanya sekedar basa-basi. "Iya, makasih bu", jawabku pendek.

Belum sempat menyicipinya, bungkusan risoles itu pun lenyap. "Wah, kayaknya enak banget tuh risoles ampe dibawa pulang. Padahal baru aja nawarin gw. Disini juga lagi ada temen gw, bukannya dimakan bareng2 malah dibawa pulang. Hebat benar manusia satu ini. Gumamku kesal".

Untuk itu aku memutuskan untuk menolak apapun yang ibu bos tawarkan. Biar dia puas. Biar dia senang dan tidak perlu repot2 memasakkan makanan untukku. Alhasil, sampai sekarang aku kelaparan. Aku menahan lapar dari pagi. Penghuni perut pun hanya aku jejali es kopi dan beberapa potong crackers, setelah itu air putih yang lagi2 ku tumpahkan ke tubuh ini. Aku ingin segera malam, aku ingin beli nasi goreng, aku ingin makan, aku ingiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnn